Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 29 Januari 2015

Pendaftaran Online event "KMT Music Party 2015"


Pendaftaran event "KMT Music Party 2015" dibuka hingga 15 Februari 2015.

Untuk rekan pelajar yang ingin mendaftar di event "KMT Music Party", pendaftaran bisa dilakukan secara online. Mekanisme pendaftaran online adalah sebagai berikut :

1.Mengisi formulir pendaftaran di bawah ini.
  • Formulir pendaftaran festival band klik di sini.
  • Formulir pendaftaran dance competition klik di sini.
2. Membayar biaya pendaftaran Rp 120.000,- (festival band) atau Rp 100.000,- (dance) dengan transfer ke rekening BNI 0312695192 a.n. Raras Ayu Pamela Maharani. Setelah melakukan transfer, konfirmasi ke nomor 081234106244 dengan format SMS : nama tim pendaftar <spasi> kategori lomba. Contoh : Angklungstik Festival Band. 
Simpan bukti pembayaran untuk ditukarkan dengan nomor peserta saat Technical Meeting.

3. Kirimkan formulir pendaftaran ke email kakangmbakyu0806@gmail.com dengan melampirkan : foto copy KTP/kartu pelajar, foto berwarna ukuran 4R masing-masing personil sebanyak 2 lembar, scan bukti pembayaran.

4. Formulir dan bukti pembayaran dibawa ketika Technical Meeting tanggal 15 Februari 2015 untuk ditukarkan dengan nomor peserta.


Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi panitia di bawah ini :
Khairul Anwar ( 082332674000)
Abilla A. P. (081336779290)

Minggu, 25 Januari 2015

Kakang Mbakyu Trenggalek Music Party 2015

Di awal tahun 2015 ini, Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek mengadakan kegiatan “Kakang Mbakyu Trenggalek Music Party 2015” dengan tema Menciptakan Solidaritas, kreatifitas demi membentuk pribadi yang kreatif dan inovatif di lingkungan pelajar. Jenis kegiatan yang diadakan adalah festival band dan modern dance untuk tingkat pelajar SMP/SMA/SMK se-Jawa Timur.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka sebagai wadah untuk para pelajar berkreatifitas di bidang seni musik dan tari modern, sebagai kegiatan dan hiburan yang positif dan sarana komunikasi antar sesama pelajar. Selain itu, Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek juga ingin melakukan pengenalan dan promosi wisata dan budaya Trenggalek yang kreatif dan menarik kepada para pelajar se-Jawa Timur.

Kriteria Peserta KMT Dance Competition 2015 
  1. Berusia 15-24 tahun
  2. Setiap tim terdiri dari 3-7 orang 
  3. Aliran : Bebas (Hip hop, sexy dance, lyrical, etc)
  4. Durasi : 5-7 menit
  5. Setiap tim wajib untuk mengkombinasikan unsur ethnic dalam penampilannya
  6. Menyerahkan foto berwarna (4R) sebanyak 2 lembar untuk setiap anggota tim dan fotocpy KTP/Kartu Pelajar
  7. Mengumpulkan lagu dalam bentuk kaset CD
  8. Membayar biaya pendaftaran Rp 100.000,-
   
Kriteria Peserta KMT Festival Band 2015 :
1.  Berusia 15-24 tahun
2.  Membawakan 1 lagu wajib
3.  Membawakan 1 lagu bebas atau lagu ciptaan sendiri
4.  No Underground
5.  Maksimal player 9 orang
6.  Kostum sesuai dengan lagu yang dibawakan
7. Menyerahkan foto berwarna seluruh badan sebanyak 2 lembar untuk setiap anggota grup
8. Menyerahkan fotocopy Kartu Identitas/ KartuPelajar
9. Durasi untuk setiap penampilan 15 menit
10. Membayar biaya pendaftaran Rp 120.000,-

List lagu wajib :
1. Almost Easy (Avenged Sevenfold)
2. Beast And The Harlot (Avenged Sevenfold)
3. Afterlife (Avenged Sevenfold)
4. Daddy Brother Lover & Little Boy (Mr.Big)
5. Carry On (Angra)
6. Under Glass Moon (Dream Theater)
7. Set My Sul on Fire (Gugun Blues Shelter)
8. Ignorance (Paramore)
9. Puppet Master (Metallica)
10. Bicycle (Queen)
11.Mustapha Ibrahim (Queen)
12.Pangeran Cinta (Dewa 19)
13 Menghujam Jantung (Tompi)
14 Bukan Milikmu Lagi (Agnez Mo)
15. Unity (Bondan Prakoso)
16. Good bless Musisi
17. Rumah Kita
18. Kehidupan
19. Kebyar kebyar
20. Padi - Sobat
21. Padi - Begitu Indah
22. Coklat - Bbendera
23. Coklat - Karma
24. U9 - Ilusi
25. nike ardila bintang kehidupan
26. Funkkop - Mawarku
27. Funkcopat
28. Nidji - Disco Lazy Time
29. Samson Naluri Lelaki
30. Dengan Nafasmu
31. Kerispatih Sepanjang Usia
32. Akhir Penantian
33. Melompat Lebih Tinggi
34. Pejantan Tangguh (SO7)
35. Pasti Cemburu (Gecko)
36. Wonder Woman (Mulan Jameela)
37. Makhluk Tuhan Paling Seksi (Ahmad Dhani)
38. Berlian (Citra Scholastika)
39. Cinta (Vina Panduwinata)
40. All About That Bass (Meghan Trainor)
41. Titanium (David Guetta)
42. Happy (Pharrel Will)

Mekanisme pendaftaran bisa klik di sini.
Acara puncak akan dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2015.

Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi panitia di bawah ini :
Khairul Anwar ( 082332674000)
Abilla A. P. (081336779290)

Simak informasi terbaru dari kami di official account : 
Facebook : Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek
Twitter : @duwistrenggalek
Blog : http://kangyutrenggalek.blogspot.com

(Admin/Zan)

Sabtu, 24 Januari 2015

Komunitas "Aku Tresno Trenggalek"

"Melakukan sesuatu untuk Kabupaten Trenggalek"

Ya, itulah yang menjadi visi komunitas "Aku Tresno Trenggalek".
Komunitas ini memang masih seumur jagung, baru dibentuk tanggal 31 Desember 2014 lalu. Namun kami sudah memiliki 'sesuatu' untuk Trenggalek.

Saat ini, komunitas Aku Tresno Trenggalek (#ATT) sedang merintis sebuah proyek sosial yaitu Desa Wisata Munjungan. Komunitas ini mengambil fokus perhatian di bidang pariwisata, karena pariwisata bersifat multidimensi. Dari pariwisata, dampaknya akan ke berbagai hal seperti perekonomian, kebudayaan, lingkungan, skill, dan lain-lain. Berikut deskripsi singkat proyek sosial yang sedang kami rintis.
Desa wisata merupakan suatu kawasan pedesaan yang memiliki ciri dan karakter untuk menjadi daerah tujuan wisata. Dalam proyek ini, desa yang akan dipilih sebagai obyek desa wisata adalah desa Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki beberapa potensi yang dapat menjadi daya tarik antara lain objek wisata alam yang memiliki lebih dari 10 pantai, dan budaya seperti jaranan, latihan gamelan, perayaan upacara adat longkangan dan agrowisata seperti petik cengkeh, petik durian, dan lain-lain.  Pembangunan desa wisata Munjungan ini turut mendukung kebijakan pemerintah mengenai pembangunan yang akan difokuskan pada pedesaan, sesuai dengan UU Otonomi Daerah No. 22/99. Dengan pembangunan yang fokus di pedesaan diharapkan akan terjadi perubahan sosial kemasyarakatan dari urbanisasi ke ruralisasi (orang-orang kota pergi ke desa untuk berekreasi). Yang selama ini terjadi karena pembangunan lebih banyak terjadi di daerah perkotaan, sehingga orang-orang desa banyak pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, dan kemudian menetap di kota. Dengan dibangun desa wisata masyarakat akan semakin terdorong untuk menjaga lingkungan dan nilai-nilai tradisi, seni dan budaya. Selain itu, keberadaan desa wisata akan memberdayakan masyarakat untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya. Desa wisata tidak hanya mengenai wisatawan yang berwisata, tetapi juga sebagai penopang perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kedatangan wisatawan ke desa juga akan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa seperti menjual hasil kerajinan, makanan khas pedesaan, dan lain-lain. Ini berarti membuka lapangan kerja baru dan tambahan income bagi masyarakat desa. (oleh : Berdit Zanzabela)


Untuk warga Trenggalek yang cinta bumi Menak Sopal, mari dukung proyek ini dengan memiliki kaos #ATT.
Dengan memiliki kaos ini kalian sudah ikut menyumbang untuk pembangunan desa wisata Munjungan.

Adapun launching perdana komunitas "Aku Tresno Trenggalek" akan digelar pada hari Minggu, 25 Januari 2015 di alun-alun (tepatnya saat Car Free Day). Acara akan dimeriahkan dengan kegiatan senam pagi dan live music (pakaian kaos #ATT, jika belum punya baju bebas).

#socialproject 
#akutresnotrenggalek 
#passion 




Rabu, 24 Desember 2014

Trenggalek : Batu Aneh di Gunung Jompong

Rabu, 24/12/2014 11:47 WIB

Batu Aneh di Gunung Jompong

Situs Batu di Gunung Jompong Belum Tersentuh Pemerintah, Ini Harapan Warga

Rois Jajeli - detikNews

Trenggalek - Situs batu yang diperkirakan peninggalan purbakala di Gunung Jompong, Desa Sukokidul, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, sampai saat ini masih belum tersentuh pemerintah maupun ahli arkeologi.

Warga Desa Sukokidul pun berharap, agar situs tersebut diteliti. Jika hasilnya benar-benar sebagai batu peninggalan purbakala, warga berharap menjadi lokasi wisata.

"Kami berharap pihak-pihak terkait dan ahlinya untuk meneliti ke lokasi, agar nanti diketahui kebenarannya tentang batu-batu itu," kata Kepala Desa Sukokidul Trimo kepada detikcom, Selasa (23/12/2014).

Bebatuan tersebut bentuknya beragam, ada yang ukurannya besar dan seperti pilar yang miring dengan motif bergaris, ada bongkahan batu yang motifnya seperti tembok, hingga bebatuan seperti linggah, pipih, lonjong dan tersebar di atas lahan milik Perhutani seluas sekitar 15 hektar.

Di lahan tersebut juga dijadikan sebagai ladang tanaman jagung dan ketela pohon bagi warga Desa Sukokidul. "Kalau memang batu itu bersejarah, kami berharap dijadikan sebagai salah satu lokasi wisata di Trenggalek dan menjadikan warga yang menggarap ladang dijadikan pegawai," ujarnya.

Trimo menegaskan, pihaknya tidak memiliki wewenang atau memiliki lahan tersebut. Pasalnya, situs tersebut berada di lahan milik Perhutani.

"Nanti kami akan berkoordinasi dengan Perhutani, bagaimana caranya agar aset yang ada di Perhutani itu dapat membuat kemakmuran bagi masyarakat sekitar, khususnya warga Sukokidul," tandasnya.


Korban salah tangkap dibakar hidup hidup dan ditembak agar mengakui tuduhan. Saksikan "Reportase Sore" TRANS TV tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

Sumber : detikNews

(Admin/Zan)

Rabu, 03 Desember 2014

Pantai Karanggongso Trenggalek, Raih Juara 1 Anugerah Wisata Jatim 2014


Piagam Penghargaan Pantai Karanggongso sebagai Terbaik I di Anugerah Wisata Jatim 2014

Kabupaten Trenggalek memiliki banyak potensi wisata alam, mulai dari wisata laut, gunung bahkan goa. Salah satu wisata alam yang mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah Pantai Karanggongso sebagai Juara pertama pada Anugerah Wisata Jawa Timur Tahun 2014 untuk kategori Daya Tarik Wisata (DTW) Alam.

Penghargaan diterima oleh Bupati Trenggalek, Dr. Ir. Mulyadi WR. MMT. Pada Grand Final/Malam Anugerah Wisata Jawa Timur yang digelar pada Jumat malam, 28 November 2014. Acara bergengsi yang digelar di Candra Wilwatikta Pandaan ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Ahmad Sukardi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jatim juga seluruh Kepala Daerah Kabupaten / Kota Se Jawa timur serta para pelaku usaha pariwisata yang ada di Jawa Timur.

Perlu di ketahui bahwa pantai Karanggongso atau biasa di kenal dengan Pantai Pasir Putih merupakan salah satu dari banyaknya pantai yang sangat menakjubkan. Pantai Karanggongso memiliki keindahan alam yang sangat memanjakan mata dan dapat digunakan sebagai tempat berlibur bersama keluarga,. Air laut yang jernih dan bersih adalah ciri khas Pantai Karanggongso, dan tidak sedikit pengunjung yang menggunakan Pantai Karanggongso untuk mandi atau berjemur di pasir putih yang bersih. Tidak jauh dari bibir pantai terdapat beberapa penginapan dan cottage sebagai tempat penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap dan menikmati suasana pantai yang tenang dan semilir.

Sekretaris Provinsi Jawa Timur Ahmad Sukardi dalam sambutannya menyampaikan bahwa Provinsi Jawa Timur kaya akan tempat pariwisita, baik itu Pariwisata Alam, Budaya maupun Buatan. Pembangunan pariwisata memiliki arti penting bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"Pembangunan wisata, harus berdasarkan pada prinsip pembangunan kepariwisataan yang berkelanjutann berorietasi pada pengurangan kemikinan, pelestarian lingkungan, dan upaya melestarikan kearifan budaya lokal," terang Sukardi Pihaknya, mengimbau, kepada Bupati dan Walikota, serta pelaku wisata agar terus meningkatkan pengelolaan dan mengembangkan potensi daya tarik wisata dan infrastruktur pendukungnya. Dengan demikian, pariwisata di Jatim dapat mengalahkan pariwisata di Bali.

"Suatu saat kita berangan-angan pariwisata di Jatim bisa seperti Bali. Dengan dibangunnya lapanganlapangan udara printis di daerah-daerah. Suatu saat Jatim akan mengalahkan wisata di Bali," ucapnya. Dikatakannya, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Pasalnya, Jatim memiliki banyak potensi wisata yang luar biasa . Antara lain, potensi wisata alam, potensi wisata buatan, dan wisata souvenir yang masing-masing kabupaten/kota di Jatim memilikinya.

Sumber : Humas Trenggalek

Minggu, 16 November 2014

Kakang Mbakyu Trenggalek 2014

Kakang Mbakyu 2014
Setelah menghelat grand final semalam (15/11), akhirnya Kakang Oky dan Mbakyu Risma terpilih sebagai juara. Setelah memasuki tahap karantina dimana ke-40 peserta mendapatkan berbagai materi seperti materi kepariwisataan, kepemudaan, table manner, koreo, dll akhirnya puncak acara dihelat sukses. Selamat untuk seluruh pemenang dan selamat bertugas. Bawa harum pariwisata Trenggalek! Salam pariwisata.

Dokumentasi : BNNK Trenggalek
Ikuti update informasi kami di fanpage facebook : Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek dan twitter @duwistrenggalek

(Admin/Zan)

Kamis, 09 Oktober 2014

Daya Tarik Wisata Baru di Kab. Trenggalek

Jembatan Cengrong di Desa Karanggandu, Kec. Watulimo, Kab. Trenggalek

KOKOH DAN INDAHNYA JEMBATAN DAMAS SERTA MULUSNYA JALUR LINTAS SELATAN (JLS) KARANG GONGSO - PRIGI - MUNJUNGAN - PANGGUL

#Obyek Wisata Baru di Prigi Watulimo &amp; JLS di Wilayah Munjungan masih tahap penyelesaian

Foto Istimewa hasil jepretan dari pemilik akun fb Kanjeng Romo ini, menggambarkan kokoh dan indahnya "JEMBATAN DAMAS" atau masyarakat menyebutnya dengan sebutan Jembatan Cengkrong. Jembatan ini terletak di desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Mulusnya JALUR LINTAS SELATAN (JLS) ini membuat masyarakat lega karna dengan adanya jembatan yang menghubungkan Karanggongso - Prigi - Munjungan - Panggul (Trenggalek - Pacitan) otomatis mempermudah akses menuju beberapa tempat wisata yang ada di kawasan tersebut.

Jembatan Damas sendiri berlokasi di sebelah barat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi Kecamatan Watulimo atau didekat Pantai Cengkrong dan tempat wisata Hutan Mangrove tepi Pantai Cengkrong. Menurut keterangan dari Kanjeng Romo foto diambil dari lereng timur Gunung Kumbo Karno.

Untuk data konstruksi Jembatan Damas sedang kami kumpulkan. Dan menurut informasi dari Mas Angga Setiawan pada hari Selasa (30/9/2014) kemarin tim kontraktor dan konsultan supervisi dari P2JN, Binamarga Provinsi telah melakukan serah terimakan Jembatan Damas ke pihak Kabupaten Trenggalek.

Provinsi Jawa Timur mempunyai jaringan jalan di utara dan selatan. Keberadaan jaringan jalan diantara keduanya tidak sama baik dalam volume lalu lintas maupun kapasitas jalannya. Perbedaan paling nyata adalah pergerakan lalu lintas barang dan manusia diwilayah utara lebih cepat jika dibandingkan dengan wilayah selatan.

Untuk menghubungkan antar Kabupaten/Kota diwilayah selatan tidak akseleratif, sehingga konsentrasi kegiatan perekonomian hanya berada diwilayah utara dan sekitarnya. Kondisi yang demikian akan menimbulkan pengaruh (dampak) yang kurang baik bagi pertumbuhan wilayah. Padahal apabila dilihat dari potensinya, wilayah selatan lebih potensial dan kelestarian lingkungannya masih terjaga baik.

Dengan kondisi ekonomi nasional yang sedang berusaha bangkit, maka kawasan Jawa Timur bagian selatan cukup prospektif untuk dikembangkan sebagai motor penggerak perekonomian. Demi menghilangkan jenjang tersebut, kebijakan pembangunan Propinsi Jawa Timur diarahkan ke wilayah selatan melalui “Program Pengembangan Kawasan Selatan Jawa Timur” sebagai program prioritas yang diawali dengan pembangunan jalan “Jalur Lintas Selatan (JLS)” Jawa Timur melalui 8 (delapan) Kabupaten yaitu Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi.

Untuk pembangunan JLS yang berada di Wilayah Kabupaten Pacitan sudah rampung dan telah diresmikam Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, Kamis (22/8/2014), sedangkan untuk pembangunan JLS yang berada di Kabupaten Trenggalek khususnya di Kecamatan Munjungan-Panggul masih dalam proses penyelesaian. Sedangkan Proyek pelebaran jalan “sirip” nasional Suruh - Panggul juga hampir selesai.

Dengan rampungnya pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) Karang Gongso- Prigi-Munjungan-Panggul serta pelebaran jalan "Sirip" nasional Suruh-Panggul diharapkan dapat mempermudah aksesbilitas dan membuka isolasi wilayah serta membawa dampak positif bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi di sekitar wilayah tersebut.

Fotografer/Dok Isitmewa : Kanjeng Romo 

Sumber : Admin FB Smaneska Trenggalek

Minggu, 31 Agustus 2014

Ikuti Pelepasan Penyu di Pantai Kili-kili Trenggalek

Apakah kalian adalah salah satu pahlawan bahari? Apakah kalian mau berkontribusi untuk lingkungan bahari? 

Kabupaten Trenggalek, selain terkenal dengan eksotika pariwisata alamnya ternyata memiliki daya tarik lain. Konservasi penyu taman kili-kili adalah pusat pelatihan dan pendidikan konservasi penyu di Kab. Trenggalek.

Adakah dari kalian yang tertarik untuk ikut melepas anak penyu di Pantai Kili-kili, Panggul, Trenggalek?? 
Di penghujung akhir tahun ini akan ada ribuan anak penyu yang akan dilepas lohhh...

Pusat Pelatihan dan pendidikan Konservasi Penyu di Kabupaten Trenggalek ini menawarkan sebuah reward berupa sertifikat Orang Tua Asuh bagi pengunjung yang mau melepas penyu ke Laut. Sertifikat ini ditujukan sebagai apresiasi kepada pengunjung yang telah membantu kegiatan konservasi penyu di Taman Kili-kili dengan ikut serta melepas penyu ke laut. Partisipasi anda membantu proses konservasi ini berarti ikut serta menjaga ekosistem laut. Dan anda layak kami sebut sebagai pahlawan bahari.

Bagi kalian yang berminat informasi lengkapnya bisa kalian akses di www.desawonocoyo.com atau kalian bisa bisa menghubungi Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.

Kabarnya, di pelepasan ucul-ucul Desember nanti akan dihadiri Arumi Bachsin juga lohhhh....
Jangan sampai ketinggalan ya...

Info seputar Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek & kegiatan-kegiatan Trenggalek bisa simak juga di official twitter kami, follow : @duwistrenggalek :)

Salam Pariwisata!
(Admin/Zan)

Selasa, 04 Februari 2014

Community Based Tourism di Ekowisata Trenggalek

Community Based Tourism atau yang bisa diartikan kepariwisataan berbasis masyarakat (komunitas) adalah pengembangan pariwisata yang dilakukan oleh masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Masyarakat di sini sebagai peran utama melalui pemberdayaan masyarakat untuk andil dalam kegiatan kepariwisataan, mereka berperan aktif dalam perencanaan, pengelolaan dan pengembangan di sektor pariwisata tersebut. Beberapa konsep wisata yang mendukung konsep CBT ini adalah konsep pariwisata untuk penjelajahan (adventure travel), wisata budaya (cultural tourism) dan ekowisata.

Di Indonesia, yang memiliki banyak potensi wisata rupa-rupanya banyak yang menerapkan konsep CBT ini. Contohnya dari wilayah Pulau Jawa, di pesisir selatannya yaitu kabupaten Trenggalek menerapkan CBT dalam konsep ekowisata yaitu di lokasi Konservasi Penyu Kili-Kili yang dikelola oleh Pokmaswas Taman Kili-kili dan Ekowisata Mangrove Pantai Cengkrong yang dikelola oleh Pokmaswas Kejung Samudra. 

Upacara Ucul-ucul, upacara pelepasan
anak penyu (tukik) ke laut bebas
Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) Taman Kili-kili adalah kelompok masyarakat yang peduli dengan keberadaan penyu di pantai kili-kili. Mereka bertugas mencari telur penyu yang ditinggalkan para induk pada malam hari, untuk kemudian dirawat hingga penyu menetas. Penyu yang baru menetas dinamakan tukik, bentuknya kecil, lucu sekali. Para tukik ini nantinya akan dilepaskan ke laut demi kelangsungan hidup mereka. Pusat Pelatihan dan pendidikan Konservasi Penyu di Kabupaten Trenggalek ini menawarkan sebuah reward berupa sertifikat Orang Tua Asuh bagi pengunjung yang mau melepas penyu ke Laut. Sertifikat ini ditujukan sebagai apresiasi kepada pengunjung yang telah membantu kegiatan konservasi penyu di Taman Kili-kili dengan ikut serta melepas penyu ke laut. Partisipasi anda membantu proses konservasi ini berarti ikut serta menjaga ekosistem laut. Dan anda layak kami sebut sebagai pahlawan bahari.

Hutan mangrove pancer Cengkrong

Sedangkan Pokmaswas Kejung Samudra merupakan kelompok/organisasi kemasyarakatan yang bertujuan meningkatkan peranan dan partisipasi masyarakat pantai dalam pembangunan perikanan sehingga terwujud masyarakat pantai yang sejahtera. Pokmaswas ini juga berkonsentrasi mengelola lingkungan mangrove yang ada di sekitar pantai cengkrong, Watulimo, Trenggalek. Sampai saat ini, Pokmaswas telah melakukan pembibitan, penanaman, perawatan dan pengolahan hasil mangrove. Pokmaswas KEJUNG SAMUDRA yang keanggotaannya terdiri dari nelayan, pedagang ikan, kalangan muda dan tokoh masyarakat pantai, bertugas membuat rencana kerja kegiatan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pantai, membuat rencana untuk meningkatkan pengelolaan sumberdaya perikanan pantai secara lestari, meningkatkan kemampuan dan keikutsertaan masyarakat pantai dalam pembangunan khususnya  pembangunan masyarakat pantai.

Referensi :

(Admin/Zan) #Lassvera

Senin, 06 Januari 2014

Si Bolang Trans7 Shooting di Panggul Trenggalek




Si Bolang Trans7 sebuah program tv yang sangat digandrungi anak-anak ini hadir di pesisir selatan Kabupaten Trenggalek tepatnya di Kecamatan Panggul. Rombongan kru Si Bolang Trans7 hadir pada hari minggu 5 Januari 2014 di Kecamatan Panggul dan langsung mengadakan audisi untuk memilih anak-anak berbakat petualang sebagai bintang cilik di acara tersebut.



Si Bolang Trans7 sebuah program tv yang sangat digandrungi anak-anak ini hadir di pesisir selatan Kabupaten Trenggalek tepatnya di Kecamatan Panggul. Rombongan kru Si Bolang Trans7 hadir pada hari minggu 5 Januari 2014 di Kecamatan Panggul dan langsung mengadakan audisi untuk memilih anak-anak berbakat petualang sebagai bintang cilik di acara tersebut.

Terpilihlah 12 anak yang dibagi menjadi 2 kelompok. kelompok pertama terdiri dari 4 sebagai bintang utama termasuk Si Bolang. Dan kelompok kedua terdiri dari 8 anak yang berperan sebagai pelengkap/ pembantu kelompok utama. Terpilih sebagai Si Bolang adalah Angger siswa kelas 5 SDN 2 Wonocoyo.

Shooting Si Bolang Trans7 6 Januari 2014 berlokasi di Pantai Joketro dan Pantai Pelang. Keindahan alam Pantai Joketro dan kesibukan para nelayan disana menjadi pemandangan yang sangat eksotik sebagai latar bermain para bocah petualang. Tidak hanya permainan-permainan di alam bebas, namun Si Bolang dan teman-teman juga menunjukkan keakraban dan kepeduliannya dengan membantu para nelayan disana.

Untuk hari selasa 7 Januari 2014 lokasi shooting akan pindah di Konservasi Penyu Taman Kili-Kili. Program Si Bolang Trans7 Edisi Panggul – Trenggalek ini akan tayang sekitar tanggal 20-an Januari 2014. Jangan lupa tonton yaa..

(Admin/Zan) ~ LIKE fanpage kam, klik Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek

Sabtu, 21 Desember 2013

Trenggalek : Drama Kolosal dalam Pertunjukan Seni Tari Turangga Yaksa

Gambar 1.1 Turangga Yaksa khas Trenggalek
(Dok. Smaneska Trenggalek)
Trenggalek adalah daerah yang terkenal dengan seni budayanya, khususnya tari. Turangga Yaksa (baca: Turonggo Yakso) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jaranan Turangga Yaksa adalah kesenian yang pada awalnya bukan suatu kesenian yang berdiri sendiri, namun merupakan bagian dari ritual atau upacara adat sebuah desa di Trenggalek yang bernama desa Dongko.
            Kesenian Turangga Yaksa murni berasal dari Kabupaten Trenggalek, tepatnya dari dusun Blimbing, desa Dongko, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Tarian ini adalah bagian dari pelaksanaan upacara adat Baritan yang diselenggarakan setiap bulan Syura (Muharram) dengan hari dan tanggal yang ditentukan oleh sesepuh (pawang), yang dianggap menguasai tentang ihwal pelaksanaannya. Upacara adat Baritan dilaksanakan dengan tujuan untuk memohon kepada Hyang Widi (Tuhan penguasa alam) agar hewan peliharaan berupa sapi, kerbau dan hewan ternak lain serta sawah ladang mereka dapat terhindar dari pagebluk (mala petaka).
            Menurut Mujiman yang kini menjabat sebagai pemilik TK/SD Kec. Dongko yang sekaligus sebagai salah satu dari sesepuh desa itu, Baritan merupakan kepanjangan dari Bubar ngarit tanduran atau dalam bahasa Indonesia artinya adalah selesai panen. Historinya, Baritan merupakan upacara adat sebagai ucapan terima kasih atau rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dari para petani yang telah berhasil memanen hasil sawah dan ladangnya. Upacara itu dilaksanakan di sawah usai panen. Baritan telah dilaksanakan turun temurun sejak jaman dahulu.
Ketika tahun 1965, karena situasi politik yang tidak menentu saat itu, Baritan tidak diselenggarakan. Namun, apa yang terjadi? Pageblukpun ternyata menghampiri desa itu. Penduduk dicekam rasa takut, hingga membuat resah seluruh warga desa  yang melebihi resahnya menghadapi situasi politik saat itu. Kemarau berlangsung berkepanjangan, banyak hewan ternak yang mati diserang penyakit atau mati kelaparan karena tidak ada rumput. Sawah dan ladang menjadi kering kerontang tak menghasilkan panen. Akhirnya seluruh warga kampung banyak yang kelaparan. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya para sesepuh mengambil inisiatif. Ada yang melakukan tapa brata. Ada yang berdo’a yang semua intinya meminta kepada Yang Maha Kuasa agar diberi petunjuk bagaimana mengatasi pagebluk yang berlangsung panjang. Anehnya, hampir semua sesepuh kampung yang sedang melakukan tapa brata mendapatkan wisik yang sama, yaitu upacara Baritan harus kembali dilaksanakan. Namun baritan kali ini, harus diadakan di sawah atau ladang yang selesai dipanen. Diatas sawah ladang tersebut didirikan terob dengan ditandai janur melengkung seperti layaknya orang mempunyai hajat mantu. Kemudian mengumpulkan seluruh petani didesa itu dengan membawa dadung/tali pengikat rajakaya, Lengkong (anyaman bambu berisi buceng), Gedang setangkep serta pulo Gimbal dan Pulo Gising. Setelah semuanya berkumpul, salah satu sesepuh menyampaikan maksud dan tujuannya mereka berkumpul disitu. Kemudian sesepuh yang lain memimpin do’a bersama yang isinya ucapan terima kasih karena sawah ladang mereka bisa panen, serta hewan ternak mereka kalis dari sambekala. Kemudian sesepuh yang dianggap paling mumpuni menghampiri dadung / tali pengikat rajakaya untuk diberi japa mantra sebelum dibawa pulang kembali oleh para petani. Setelah selesai, sesepuh tersebut berpesan kepada para petani, bahwa tali pengikat rajakaya yang telah diberi jampi-jampi tersebut harus disimpan diatas paga atau sebuah keranjang yang letaknya diatas tungku perapian. Jika rajakaya mereka sakit, tali yang disimpan diatas paga tadi boleh diambil lalu dibecem/dicelupkan diair beberapa saat dan airnya supaya diminumkan kepada hewan ternak mereka yang sakit. Insyaallah, hewan tersebut bisa sembuh seperti sedia kala. Kemudian setelah selesai prosesi upacara. Diadakan kembul bojana andrawina (pesta pora) dengan menanggap tayub. Ide gagasan tercetusnya Turangga Yaksa menurut cerita Mujiman berasal dari Sutiyono. Ketika itu tahun 1972, Sutiyono ingin melestarikan prosesi ritual baritan yang begitu sakral dalam wujud sebuah kesenian tradisi yang akrab dihati masyarakat. Namun melambangkan maksud dan tujuan dari prosesi baritan itu sendiri. Belum lagi gagasan itu terwujud secara sempurna mendadak Sutiono meninggal. Kemudian gagasannya dilajutkan oleh Puguh. Akhirnya tercetuslah sebuah kesenian tradisional berupa tarian sejenis jaranan berkepala raksasa yang disebut turangga yaksa. Sebagai koreografernya penata gerak tariannya waktu itu adalah sdr. Pamrih. Sedangkan penata gendingnya diserahkan kepada sdr. Muan. Sementara itu Puguh sendiri menyusun jalan ceritanya. Bertiga mereka berjuang keras untuk membuat sebuah karya seni yang mempunyai tata gerak yang amat enerjik. Ternyata kerja keras mereka membuahkan hasil yang kala itu menurut sdr. Pamrih tahun 1982 Turangga Yaksa digelar dalam sebuah pergelaran ala kampung untuk melengkapi ritual baritan yang pertama kali. Walaupun dalam gerak estetiknya masih diilhami dari kesenian tradisional jaranan, namun turangga Yaksa mempunyai tata gerak yang lain dibandingkan dengan jaranan sentherewe maupun jaranan Breng.

Gambar 1.2 Festival  Turangga Yaksa 2013
(Dok. Smaneska Trenggalek)
Dalam perjalanan sejarahnya, sekarang jaranan Turangga Yaksa telah menjadi kesenian tradisional khas Trenggalek yang patut dibanggakan, hal itu dibuktikan dengan dipatenkannya Tari Turangga Yaksa sebagai tari asli dari Kabupaten Trenggalek sejak tanggal 23 September 2012 di anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah. Perkembangan selanjutnya, tari Turangga Yaksa tidak sekedar sebagai bagian upacara adat, namun pemerintah Trenggalek juga turut melakukan pelestarian budaya asli daerah dengan menyelenggarakan Festival Turangga Yaksa yang juga untuk memperingati Hari Jadi Trenggalek.
Melalui website resmi Humas Kabupaten Trenggalek, Sekretaris Daerah setempat mengatakan bahwa upaya pelestarian dan pengembangan terus dilakukan, salah satu diantaranya dengan diadakannya lomba atau Festival Turangga Yaksa. Harapannya. Festival ini tidak hanya bergaung di tingkat lokal, tetapi mampu menjangkau tingkat Jawa Timur. Pembangunan di bidang seni budaya, dari tahun ke tahun telah diupayakan untuk peningkatan baik dari sisi materi seni budayanya, seniman maupun sarana penunjangnya, yang pada gilirannya mampu diangkat nilai lokal ini menjadi global, bukan sebaliknya. Jika demikian yang terjadi, maka peran seni budaya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Trenggalek baik dengan menjual hasil karya ekonomi kreatif berbasis seni budaya atau mengintregasi  dengan hasil produk bidang lain dapat diwujudkan.
Bagi masyarakat yang belum menyaksikan langsung pertunjukan Turangga Yaksa, tentu penasaran mengenai alur pertunjukan jaranan Turangga Yaksa. Berdasarkan sejarah Turangga Yaksa di atas, seni tari asli Trenggalek ini tidak sekedar pertunjukan atau bagian upacara adat. Skenario seni tari ini seperti drama kolosal, tidak terpisah-pisah.

Gambar 1.3 Drama dalam tari Turangga Yaksa
(Dok. Smaneska Trenggalek)

Dalam drama tari di Trenggalek tersebut, terdapat beberapa penari yang mengayun-ayunkan cemeti ke tanah. Sesaat debu mengepul ke udara, seiring semangat gerakan sang penari yang mengapit kuda berkepala raksasa, itulah Turangga Yaksa. Gerakan mereka meliuk-liuk, menunduk dan kemudian bersujud seakan-akan menghormati pada sang penguasa. Dalam diam bersujud, tiba-tiba muncul tokoh penari, memakai baju hitam dan mengapit celeng dan sesosok lagi muncul penari tinggi, besar dan menakutkan. Tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh jahat yang mengganggu kedamaian umat manusia dan digambarkan dengan celeng (babi hutan) dan caplok’an (serupa barong). Akhirnya mereka bertarung di medan pertempuran. Para penari Turangga Yaksa menjadi ksatria yang ikut menumpas tokoh kejahatan tersebut. Pertempuran berlangsung sengit, gemercik tetabuhan mengiringi pertempuran para ksatria kerajaan.
Para tokoh kejahatan kalah, terkapar di medan perang. Pertempuran pun usai. Para ksatria bersuka ria. Mereka menari berputar-putar sambil terus menghentakkan kaki ke bumi. Seolah mengatakan, kebenaran di muka bumi menang dan telah mengalahkan kejahatan.
Begitulah singkat cerita dari pertunjukan tari jaranan Turangga Yaksa. Urutan penampilan di atas adalah versi konvensi yaitu para ksatria Turangga Yaksa muncul pertama, baru selanjutnya tokoh jahat yaitu barong dan celeng muncul dalam pertunjukan. Perkembangan selanjutnya, dalam pementasan terdapat kreativitas-kreativitas baru dalam pementasan jaranan Turangga Yaksa masa kini, variasi pertunjukan tidak selalu menampilkan Turangga Yaksa terlebih dahulu, namun menunjukkan rampak barong atau rampak celeng terlebih dahulu baru ksatria Turangga Yaksa. Meskipun terdapat beberapa variasi dari kreativitas seniman, cerita dalam pementasan drama kolosal tersebut tidak berubah.
Ciri dari tari Turangga Yaksa ini adalah gerak tari dan musik pengiringnya yang energik dan dinamis. Properti Tari Jaranan Turangga Yaksa juga memiliki ciri khas tersendiri yaitu, perpaduan antara kepala raksasa dengan badan kuda yang terbuat dari kulit kerbau, sehingga dijadikan salah satu identitas lokal Kabupaten Trenggalek, nilai ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Tari Jaranan Turangga Yaksa yaitu filosofi dari Tari Jaranan Turangga Yaksa. Nilai ketrampilan yang terkandung dalam Tari Jaranan Turangga Yaksa yaitu, pada saat bermain peran. Nilai estetika/keindahan, terdapat pada perpaduan antara tata rias dan busana yang dikenakan, ragam gerak, serta musik yang mengiringi, sehingga ditemukan nilai harmonisnya. Nilai moral yang terkandung dalam tari jaranan Turangga Yaksa yaitu seorang penari akan terbentuk watak halus, sopan santun, disiplin, dan tanggap situasi. Nilai religius, yaitu pada gerak sembahan yang berarti atau lambang berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ranah pendidikan, pembelajaran Tari Jaranan Turangga Yaksa pada siswa tidak hanya dituntut untuk memperagakan gerak dalam tarian tersebut, tetapi siswa juga harus paham tentang gambaran nilai-nilai yang ada pada kesenian Tari Jaranan Turangga Yaksa itu sendiri. Dengan tujuan untuk mengembangkan interpretasinya dalam memperkuat daya ungkap, pemahaman tentang jati diri ataupun keberadaan hidup manusia serta hubungan dengan keberadaan dunia luar.
Sepanjang eksistensi jaranan Turangga Yaksa ini tidak hanya mencuri hati para penikmat seni daerah setempat, namun juga masyarakat di lua daerah (interlokal). Terbukti dengan dua tahun berturut-turut dipercaya oleh Dinas Pendidikan Provinis Jawa Timur untuk tampil di acara Pergelaran Seni Pertunjukan Padang Rembulan di Magetan dan Madiun. Selain itu, lewat grup Turangga Yaksa “Krido Budoyo SMANESKA” tanggal 19 Mei 2013 tampil memukau dalam mengikuti festival Majapahit Travel Fair 2013 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim dan tanggal 7 Oktober 2013 lalu mendapat kehormatan sebagai bintang tamu untuk tampil di acara JATIM FAIR 2013 di Grand City, Surabaya.

Gambar 1.4 Penampilan di acara Pergelaran Seni Pertunjukan Padang Rembulan Tahun 2013 (Dok. Smaneska Trenggalek)

Gambar 1.5 Penampilan grup Turangga Yaksa “Kridho Budoyo SMANESKA” di Majapahit Travel fair 2013 (Dok. Smaneska Trenggalek)

(Admin/Zan) - #Lassvera

Sumber :
1) Tari Jaranan Turangga Yaksa Pertimbangan Tari Jaranan Turangga Yaksa Sebagai Identitas Lokal Kaitannya Dengan Penanaman Nilia-Nilai Pendidikan Pada Siswa SMA Negeri 1 Trenggalek.
2) Turangga Yaksa: Menghentak Nggalek
3) Fanpage : Turangga Yaksa

Selasa, 26 November 2013

Prestasi Trenggalek di Anugerah Wisata dan Penghargaan Seniman Jatim 2013



(26/11) Selamat, Kabupaten Trenggalek terpilih menjadi Kabupaten dengan Pemerintah Pemerhati Pariwisata Terbaik Jawa Timur 2013 di acara malam Anugrah Wisata dan penghargaan seniman Jawa Timur di hotel Mercure Grand Mirama Surabaya

Senin, 18 November 2013

Duta Wisata Kab. Trenggalek 2013

Duta Wisata Kabupaten Trenggalek tahun 2013
Kemarin (17/11), grand final pemilihan duta wisata Kab. Trenggalek tahun 2013 usai dihelat dengan terpilihnya Kakang Bagus dan Mbakyu Luhpatma sebagai pengemban gelar Duta Wisata tahun 2013 ini. Acara yang digelar di Hall Majapahit, Hayam Wuruk Trenggalek ini merupakan puncak acara usai diadakannya karantina selama 3 hari bagi 46 finalis Kakang Mbakyu.

Jumat, 15 November 2013

Hasil Penilaian Tes Talenta Oleh Kakang Dendit V Pemilihan Kakang Mbakyu Trenggalek 2013


"Tes Talenta Kakang Mbakyu Kabupaten Trenggalek 2013 telah dilaksanakan hari ini, sungguh  luar biasa karena talenta yang dimiliki oleh peserta sangat beragam dan unik, memiliki cita rasa Indonesia dan adat Mataraman. Hasil tes talenta kali sungguh diluar dugaan karena nilai sudah di atas rata rata, saya sangat bangga dengan peserta kali ini, peguasaan materi talenta, dan bermacam macam talenta yang dimiliki mampu ditampilkan dengan baik"




"Bagi yang fotonya belum ditampilkan, kalian jangan sedih ya? karena foto yang diambil ini berdasarkan best shoot camera, jadi yang di posting belum tentu nilainya sebaik yang belum di posting" :)




"Saya sangat menyukai transparansi penilaian, jadi menurut saya, percuma juga saya menilai jika tidak dipublikasi, karena haus akan penasaran atas penampilan pribadi merupakan hal yang tidak seharusnya dirasakan oleh peserta, apalagi talenta. "









"Hasil penilaian Tes Talenta ini tidak menjamin pemegang skor tertinggi akan mendapatkan pemenang Berbakat, Nilai yang akan disajikan merupakan nilai alternatif dan bisa dijadikan sebagai tolok ukur peserta dalam penilaian talenta, berbakat atau tidaknya peserta, penilaian tidak hanya dilakukan saat uji talenta"








"Bagi peserta yang ingin tahu hasil nilai Talentanya, bisa didapat dengan cara menjawab pertanyaan di bawah ini sebagai PASSWORD-nya,

1. "Kabupaten Trenggalek memiliki koleksi benda prasejarah, yang bisa disebut juga dengan Museum Lokal, Dimanakah letak museum itu berada?"

2. "Kantor DPRD Kabupaten Trenggalek, berlokasi di pusat Kota Trenggalek, tepatnya di utara aloon aloon. Di depan kantor ini, terdapat sebuah patung yang berdiri, yang selalu dilihat oleh pemakai jalan yang melewatiny, patung apakah yang berdiri di depan Kantor DPRD?"

formatnya: Ketik NAMA<spasi>NOMOR PESERTA<spasi>NOMOR HP PESERTA dan PIN BB(jika ada)<spasi>Jawaban 1 adalah<spasi>Jawaban 2 adalah

kirim ke 085646077204 / pin 24bf79e1 save di kontak kalian, atas nama Kakang Dendit Viegas LM.

Batas untuk mengetahui skor Talenta adalah besok Tanggal 16 Nopember 2013 pukul 13.00 WIB
n.b dilarang keras memberi tahu PASSWORD kepada peserta lain....

Semoga Sukses Kakang Mbakyu Kabupaten Trenggalek 2013 :)

warm regards
RAKA BERBAKAT JAWA TIMUR 2013 "


Jumat, 11 Oktober 2013

Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Trenggalek 2013

Hallo warga Trenggalek, ada berita baru nih. Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Trenggalek hadir lagi. Acara tahunan yang diikuti banyak pemuda/i Trenggalek ini akan dihelat mulai bulan Oktober hingga November, mulai dari pendaftaran, TM, karantina dan Grand Final.

Ada nuansa berbeda pemilihan tahun ini, yaitu Grand Final akan dilaksanakan di Pendapa. Apa sih tujuannya? Tujuannya, agar lebih dekat dengan masyarakat dan melibatkan seluruh masyarakat Trenggalek sebagai saksi penobatan Duta Wisata Kabupaten Trenggalek yang terpilih.

Bagi kamu yang berjiwa muda dan mau bergerak dalam bidang Pariwisata, ayo segera daftarkan diri kamu di Ajang Pemilihan Duta Wisata Kakang Mbakyu Kabupaten Trenggalek 2013.



Persyaratannya :

1. Putra-Putri usia 18-24 Th (sampai dengan Bulan Maret 2014)
2. Surat Keterangan Belum Menikah
3. Tinggi Badan Minimal Putra: 170cm, Putri : 165 cm proporsional
4. Berdomilisi/mempunyai KTP Kab. Trenggalek
5. Surat Ijin dari orang tua/lembaga pendidikan
6. Surat Keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter
7. Surat Keterangan bebas (pengguna, pengedar, produsen) Narkoba dari Kepolisian
8. Pas foto Ukuran 4 x 6 berwarna sebanyak 4 lembar
9. Pas foto close up dan photo seluruh badan baground putih masing-masing ukuran 4R 2 lembar
10. Memiliki talenta khusus (seni tari, MC, Vokal, Musik, Puisi, Drama)
11. Peserta wajib hadir saat pendaftaran.
12. Siap menjadi terkenal dan kontrak promosi Pariwisata Kabupaten Trenggalek.

Formulir pendaftaran dapat di ambil di Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek...
Pendaftaran dibuka tanggal 10 Oktober - 8 November 2013.

Grand Final 17 Nopember 2013 di Pendapa Kabupaten Trenggalek.
Biaya pendaftaran Rp 50.000,- (dapat kaos, modul, dll)

LIKE fanpage kami : Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek ^^

(Admin/Zan)

Senin, 02 September 2013

SEJARAH BERDIRINYA TRENGGALEK

Prasasti Kamulan


Sebelum ditemukan sumber yang bersifat tertulis maka daerah itu mengalami masa prasejarah. Sedangkan di Trenggalek jaman sejarah akan ditandai dengan adanya prasasti yang pertama kalinya muncul berbentuk Prasati Kampak atau dikenal dengan namanya Perdikan Kampak. Pada jaman Prasejarah, Trenggalek telah dihuni oleh manusia dengan bukti ditemu kannya benda-benda yang merupakan hasil jaman Nirloka. Dari hasil penelitian serta lokasi benda benda prasejarah tadi dapatlah direkontruksikan, perjalanan manusia-manusia pemula di daerah Trenggalek itu dalam beberapa jalur, yaitu :



1. Jalur Pertama, dari Pacitan menuju Panggul perjalanan diteruskan ke Dongko, dari Dongko menuju ke Pule kemudian menuju ke Karangan dari sini dengan menyusuri sungai Ngasinan menuju ke Durenan.Kemudian manusia – manusia Purba Trenggalek itu melanjutkan perjalanan ke wajak daerah Tulungagung.

2. Jalur Kedua, berangkat dari Pacitan ke Panggul menuju Dongko, melalui tanjakan ngerdani turun ke daerah Kampak laju ke Gandusari, dari sini perjalanan dilanjutkan ke Tulungagung.

3. Jalur Ketiga, berangkat dari Pacitan menuju Panggul menyusuri tepi Samudra Indonesia menuju Munjungan, di teruskan ke Prigi lalu Ke Wajak.

Demikian rekontruksi perjalanan manusia – manusia pra sejarah yang berlangsung bolak balik antara Pacitan dengan Wajak. Jalur-jalur perjalanan tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya artefak jaman batu besar seperti, menir, mortar, batu saji, batu dakon, palinggih batu, lumpang batu dan sebagainya. Yang kesemuanya benda benda tadi tersebar didaerah daerah bekas jalur jalur lalu lintas mereka itu. HR VAN HEEKEREN menyatakan bahwa homowajakensis (manusia purba wajak) hidup pada masa Plestosin atas, sedangkan peninggalan Pacitan berkisar antara 8.000 sampai 35.000 tahun yang lalu.Akibatnya masa megaliticum atau masa neoliticum itulah yang meliputi daerah Trenggalek purba. Satu hal yang perlu dicatat disini bahwa manusia – manusia Trenggalek pada waktu itu dapat direkontruksikan lebih tua jika dibandingkan manusia wajak dan lebih muda dibanding dengan manusia – manusia Sampung Ponorogo.

Mengingat masa itu masyarakat sudah mengenal pertanian, maka dari segi sosial, masyarakat tadi sudah mengenal struktur atau stratifikasi sosial walaupun dalam bentuk sangat sederhana. Sedangkan masalah perekonomian dan kebudayaan telah pula mereka kenal dan mereka anut serta dikerjakan oleh masyarakat pendukungnya. Berakhirnya masa prasejarah berarti mulainya masa sejarah dimana tulisan mulai dikenal pada saat itu. Untuk itu Perdikan Kampak merupakan tonggak sejarah Kabupaten Trenggalek yang tak dapat diabaikan. Lahirnya perdikan kampak ditandai dengan adanya prasasti kampak yang dibuat oleh Raja Sindok pada tahun 851 syaka atau 929 Masehi. Dari prasati itu dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah daerah yang mendapatkan hak otonomi atau swantara lebih jelas lagi diketengahkan bahwa Perdikan Kampak berbatasan dengan mahasamudera (Samudera Indonesia ) disebelah selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Selanjutnya disinggung pula daerah Dawuhan yang sekarang daerah ini juga masih dapat dijumpai di Trenggalek. Setelah masa Mpu Sindok dengan melalui masa Raja Dharmawangsa lahirlah di Jawa Timur kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak ditemuinya data atau mungkin belum ditemukannya data tentang masa tersebut.

Namun tidak bisa disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah kerajaan Kediri. Dari jaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini munculnya prasasti Kamulan yang terletak di Desa Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

Bertolak dari prasasti Kamulan dapatlah diajukan suatu masa lahirnya Perdikan Kamulan. Di dalam prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannya yaitu tahun 1116 caka atau tahun 1194 masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh Raja Sarweswara Trikramawataranindita Srngga

Lancana Dikwijayotunggadewa atau biasa dikenal dengan nama Kertajaya. Raja inilah yang berhasil mengusir musuh musuhnya dari daerah Katang – katang berkat bantuan rakyat Kamulan.

Berdasarkan atas prasasti inilah ditetapkan “Hari jadi Kabupaten Trenggalek pada hari” Rabu Kliwon “tanggal 31 bulan Agustus tahun 1194. Hari dan tanggal tersebut dijadikan hari jadi atau hari lahirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek, antara lain :
• Pertama : Prasejarah daerah Trenggalek menunjukkan bahwa daerah itu telah dihuni manusia, tetapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.
• Kedua : Prasasti Kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan Prasati itu dilaksanakan isinya.
• Ketiga : Hanya Prasasti Kamulan yang memiliki informasi cukup lengkapsehingga mampulah prasastiKamulan dijadikan tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridis formalyang dapat dipertanggung jawabkan.
Masa Perdikan
Dalam masa perdikan ini dapat dikelompokkan dua liputan yakni :
a. Masa Perdikan Hindu.
b. Masa Perdikan Islam.

Pada masa perdikan Hindu ditemui puing – puing percandian di daerah Trenggalek serta beberapa benda – benda purbakala Hindu. Antara lain beberapa monogram seperti monogram 1330 caka atau 1408 Masehi yang terpahatkan dalam punggung arca wanita yang ditemukan di Dompyong. Arca Bhima yang ditemukan di Dukuh Ngreco desa Parakan dan kini dimuka Pendopo Kabupaten serta Arcadwarapala yang ditemukan dikaki Gunung Kambe Desa Watulimo. Penemuan tadi merupakan koleksi benda purba yang diidentifikasi pada jaman Majapahit akhir pembuatannya. Jadi jelas padamasa perdikan hindu ini Trenggalek mengalami masa Kediri sampai dengan Majapahit. Bukti lain yang memperkuat pendapat ini yaitu dengan ditemukannya ambang pintu candi dan sebuah yoni yang digali dari Desa Sukorame Kecamatan Gandusari. Disekitar pondok pesantren Hidayatul Tholab-pun banyak dijumpai puing puing percandian dan arca arca, antara lainnya dua buah kepala kala, arca ganesya dan balok – balok batu berkas percandian. Malahan dapat diperkirakan dengan jelas bahwa prasasti Kamulanpun dipendam didaerah ini. Setelah masa perdikan Hindu, datang dan berkembang Agama Islam yang menyebabkan banyak sekali perdikan perdikan Hindu yang langsung dijadikan Perdikan Islam. 

Sayang sekali mengenai jaman Islam awal ini di Trenggalek tidak ditemui informasi yang memadai. Meskipun demikian satu hal yang tak dapat dilupakan bahwa Menak Sopal perlu diangkat sebagai figur sejarah pemula penyebar Agama Islam di Trenggalek, yang banyak perhatiannya dalam bidang pertanian. Ternyata pada peninggalan kompleks makam Bagong yang sampai kini diyakini dan dipercayai masyarakat Trenggalek tentang pembuatan Dam Bagong oleh Menak Sopal, terdapat suatu bukti – bukti yang berupa makam Menak Sopal dan istrinya yang tergores pada nisannya sebuah candra sangkala. Candra Sangkala tadi berbunyi “Sirnaning Puspita Cinatur Wulan”, dengan arti sirna merupakan ungkapan dari makam, dan merupakan tempat orang meninggal maka bernilai 0 (nol). Sedangkan bunga bernilai 9 (sembilan) dan karena bunga ini berdaun mahkota empat menimbulkan kata cinatur yang nilainya 4 (empat), candra yang berarti bulan bernilai 1( satu), akibatnya angka tahun itu bila dibaca dari belakang ialah 1490 caka atau 1568 Masehi. Data tersebut mnunjukkan bahwa masuknya agama islam di Trenggalek sekitar abad XVI, pada waktu kerajaan pajang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya. Bagaimana keadaan Trenggalek pada masa Perdikan Islam ini kurang dapat dipaparkan, seolah olah masa itu masih tertutup oleh tabir misteri yang perlu dikuakkan pada masa – masa yang akan datang.

Trenggalek awal lalu digabungkan

Sejarah Kabupaten Trenggalek memang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan. Periode Trenggalek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika Poleksosbud Trenggalek + 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek digabungkan yang meliputi awal Proklamasi sampai Revolusi Fisik.

Trenggalek Awal
Yang dimaksud dengan Trenggalek awal ialah masa dimana patut dibedakan pemerintahan timbul tenggelam yang mengemudikan Kabupaten Trenggalek. Peristiwa sebelum 1830 yang menggoncangkan pulau jawa adalah peristiwa pembunuhan penduduk Cina di Batavia secara besar-besaran yang dilaksanakan oleh VOC pada tanggal 10 Oktober 1940 yang dikenal dengan nama perang Pacino atau geger Pacinan. Akibatnya Mas Garendi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk cina dan mengadakan pemberontakan menyerang Kartasura pada 30 Juni 1742. Akibat dari pemberontakan ini Sultan Paku Buwana II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo.

Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo Sunan Paku Buwana II berhasil menumpas pemberontakan Mas Garendi mengakibatkan putra Bupati Mertodiningrat diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Trenggalek pertama inilah yang bernama Sumotruno.

Bupati Sumotruno digantikan oleh saudaranya sendiri Bupati Jayanegara yang merangkap penguasa tunggal di Sawo Ponorogo. Waktu perang Mangkubumen, penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri dan mengikuti jejak Sultan Hamengkubuwana I. Pada akhir peperangan Mangkubumen yang mencetuskan perjanjian Giyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek dibagi menjadi dua bagian,

Bagian Timur termasuk wilayah Ngrawa dan bagian barat dan selatan termasuk Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya tugu perbatasan dari batu yang terdapat didesa gayam Kecamatan Panggul. Baru pada tahun 1830 setelah Perang Diponegaran selesai, daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda. Susunan tata pemerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat diperkirakan kalau tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah – daerah wilayah Kerajaan Mataram yang lain.

Pada tahun 1942 Bupati Trenggalek Raden Tumenggung Mangkunagoro meninggal dan digantikan oleh Raden Tumenggung Aryakusuma Adinoto yang sejak awalnya menjabat sebagai Bupati Besuki. Raden Tumenggung Aryakusuma Adinoto pada tahun 1943 dipindahkan ke berbek daerah Nganjuk, sehingga jabatan Bupati Trenggalek masa ini lowong. Untuk mengisi kekosongan ini diangkatlah Raden Ngabei Joyopuspo yang pada awalnya menjabat sebagai patih Trenggalek menjadi Bupati Trenggalek dengan Raden Tumenggung Pusponagoro. Tidak selang lama Raden Tumenggung Pusponagoro wafat, sebagai gantinya diangkatlah wedono Tulungagung, Raden Gondokusumo menantu Bupati Tulungagung sebagai Bupati Trenggalek dengan gelar Tumenggung Sumoadiningrat pada tahun 1845 M.

Trenggalek Digabungkan

Sejak tahun 1926 telah diadakan perubahan pemerintahan oleh pihak Belanda. Perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkan, sebagian daerahnya dimasukkan Kabupaten Tulungagung dan sebagian lainnya dimasukkan Kabupaten Pacitan. Akibatnya hal ini sama dengan pada masa sebelum Kabupaten Trenggalek awal.

Penggabungan ini menyebabkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian keadaan Trenggalek tidak dapat dicatat. Trenggalek pada masa revolusi fisik ditandai dengan masuknya daerah ini kedalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Berita masuknya Trenggalekkedalam negara kesatuan Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lisan dan tersebar serta didengar oleh seluruh penduduk desa – desa Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek juga mendapat perhatian dari pembesar pembesar negara antara lain :
Menteri Agama Kyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag.Datang pula Menteri Dalam Negeri Drs. Susanto Tirtoprodjo,SH serta Menteri Negara dr, Sukiman Wiryosandjojo yang sampai didaerah Trenggalek dengan jalan kaki.

Panglima Besar Jendral Sudirmanpun pernah dua kali mengunjungi Trenggalek. Kunjungannya yang terakhir pada tanggal 24 januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Sekitar Konferansi Meja Bundar yang membuahkan Pemerintah Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Trenggalek. Hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan Mukardi, R. Roestamadji dan Sukarlan dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Cronn dan Karis Sumadi sebagai wakil pihak Belanda. Dengan demikian selesailah masa penggabungan di Trenggalek yang dipenuhi oleh peristiwa peristiwa duka dan lara. Namun berkat nama Tuhan Yang Maha Esa fajar telah menyingsing dan Trenggalek mengalami masa cemerlang serta masa pembangunan demi tercapainya Keagungan Bangsa dan Negara.

Trenggalek Wibawa

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjunjung seluruh wilayah Indonesia menjadi wilayah yang merdeka dalam kesatuan dan persatuan dengan Negara Republik Indonesia. Secara formal Kabupaten Trenggalek timbul kembali berdasarkan SK. Presiden tahun 1950 Nomor 20 yang ditandai oleh Presiden saat sebagai Presiden RI yang termasuk dalam Negara Republik Indonesia Serikat.

Perjalanan roda sejarah tidak pernah henti akibatnya Trenggalekpun mengalami Pemerintahan Orde Lama dan Trenggalek wibawa dalam pembangunan. Dari Undang – Undang Nomor 20 tahun 1950 dapat diketahui bahwa Trenggalek dinyatakan sebagai Kabupaten yang terdiri dari Kawedanan Trenggalek, Kampak, Karangan dan Panggul. Pada awalnya Notosugito Patih Tulungagung diangkat sebagai Bupati Trenggalek.

Sesudah Notosugito Trenggalek diperintah Oleh R.Lantip sebagai acting Bupati di Trenggalek sejak tanggal 8 Agustus 1950 sampai 27 Desember 1950 yang pada saat itu sudah terbentuk DPRS, untuk pertama kalinya jabatan ketua dipegang oleh R. Oetomo. Semenjak tanggal 27 Desember 1950 Muprapto menduduki kursi Bupati Kabupaten Trenggalek yang berakhir pada tanggal 21 januari 1958. penggantinya R. Abdul Karimdiposastro memerintah sejak tanggal 1 Desember 1958 sampai dengan 1 Juni 1960.

Bupati R. Abdul Karimdiposastro didampingi oleh R. Supangatprawironoto selaku Kepala Daerah Trenggalek. Masa orde lama diakhiri dengan masa pemerintahan Bupati Budikuntjahjo yang diamankan oleh Negara karena tersangkut peristiwa G 30 S/PKI.

Demikianlah beberapa peristiwa yang dapat dicatat dalam masa Orde Lama.Antara tanggal 1 oktober 1945 sampai 31 januari 1967 Kabupaten Trenggalek diperintah oleh Bupati Hardjito yang merupakan perintis Orde Baru didaerah Trenggalek. Pada tahun 1967 Bupati Muladi menggantikan Bupati Hardjito, saying sekali Bupati Muladi hanya memerintah antara tanggal 1 pebruari 1967 sampai 1 oktober 1968.

Semenjak tahun 1967 Trenggalek dipimpin oleh Bupati Sutran yang gigih berusaha memotivitir penduduk Trenggalek agar lebih giat melipat gandakan produksi pertanian

Wasana Kata

Dalam mengikuti peristiwa perjalanan hidup manusia – manusia Trenggalek yang terkait dalam putaran roda sejarah Kabupaten Trenggalek maka kini sampailah pada wasana kata yang akan mengakhiri Kitab Petunjuk Singkat Sejarah Kabupaten Trenggalek ini. Dari hasil penelitian, penelusuran, pengolahan dan penyusunan Kabupaten Trenggalek dapatlah kini disimpulkan bahwa :

1. Trenggalek telah dihuni oleh manusia – manusia purba sebagai nenek moyang sejak jaman Prasejarah.
2. Jaman Prasejarah diakhiri pada tahun 851 caka atau 929 Masehi dengan diketemukannya Prasasti Kampak yang melahirkan Perdikan Kampak. Sebagai anugrah Simaparasima dari Raja Pu Sindok Isyana Tunggadewa sebagai hadiah pada masyarakat Trenggalek.
3. Perdikan Kampak disusul dengan timbul dan memantabnya Perdikan Kamulan yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1194 dengan demikian secara yuridis formal Kabupaten Trenggalek lahir pada tanggal 31 Agustus 1194 hari Rabu Kliwon.
4. Keadaan geeografis Trenggalek memiliki beberapa keistimewaan yang tak dimiliki oleh daerah lain, sehingga meelahirkan goresan sejarah yang berbeda pula dengan daerah lain. Akibatnya daerah ini selalu menjadi “terugval basis”. Karena itu tepat sekali bila daerah ini bernama “TRNG GALE” yang kemudian karena perubahan gejala bahasa maka menjadi “TRENGGALEK”.
Dengan demikian patutlah bila terjilma cita cita Trenggalek Wibawa yang tak kenal mundur untuk terus membangun. Hal ini jelas terungkap dalam sirat dan suratan Lambang Trenggalek yang berbunyi : “JWALITA PRAJA KARANA”. Karena itu sebagai doa dan harapan yang mengakhiri Kitab Kecil ini tercetus sasanti : “Jaya Wijayagung Mandraguna Trenggalek Jayati”.

Sejarah Trenggalek dan Pemerintahannya.

Berdasar pada Kitab Babon Sejarah Trenggalek, Kabupaten Trenggalek telah dihuni manusia sejak ribuan tahun yang lalu, yaitu pada jaman pra-sejarah. Hal itu dapat dibuktikan dengan telah ditemukannya artifak-artifak jaman batu besar seperti: Menhir, Mortar, Batu Saji, Batu Dakon, Palinggih Batu, Lumpang Batu dan lain-lain. Benda-benda tersebut tersebar di daerah-daerah yang terpisah yang dimungkinkan di daerah tersebut adalah jalur perjalanan manusia Pemula. Berdasar data tersebut disimpulkan bahwa, perjalanan manusia Pemula berasal dari Pacitan menuju ke Wajak Tulungagung dengan melalui jalur:
• Dari Pacitan menuju Wajak melalui Panggul, Dongko, Pule, Karangan dan menyusuri sungai Ngasinan menuju Wajak Tulungagung.
• Dari Pacitan menuju Wajak melalui Ngerdani, Kampak, Gandusari dan menuju Wajak Tulungagung.
• Dari Pacitan menuju Wajak dengan menyusuri Pantai Selatan Panggul, Munjungan, Prigi, dan akhirnya menuju ke Wajak Tulungagung.
Menurut HR VAN KEERKEREN, Homo Wajakensis (manusia purba wajak) hidup pada masa plestosinatas, sedangkan peninggalan-peninggalan manusia purba Pacitan berkisar antara 8.000 hingga 23.000 tahun yang lalu. Sehingga, disimpulkan bahwa pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek dihuni oleh manusia.

Walaupun banyak ditemukan peninggalan manusia purba, untuk menentukan kapan Kabupaten Trenggalek terbentuk belum cukup kuat karena artifak-artifak tersebut tidak ditemukan tulisan. Baru setelah ditemukannya prasasti Kamsyaka atau tahun 929 Masehi, dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapat hak otonomi / swatantra, diantaranya Perdikan Kampak berbatasan dengan Samudra Indonesia di sebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Disamping itu, disinggung pula daerah Dawuhan dimana saat ini daerah Dawuhan tersebut juga termasuk wilayah Kabupaten Trenggalek. Pada jaman itu tulisan juga sudah mulai dikenal.

Setelah ditemukannya Prasasti Kamulan yang dibuat oleh Raja Sri Sarweswara Triwikramataranindita Srengga Lancana Dikwijayatunggadewa atau lebih dikenal dengan sebutan Kertajaya (Raja Kediri) yang juga bertuliskan hari, tanggal, bulan, dan tahun pembuatannya, maka Panitia Penggali Sejarah menyimpulkan bahwa hari, tanggal, bulan, dan tahun pada prasasti tersebut adalah Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.

Sejarah Singkat Pemerintahan

Seperti halnya daerah-daerah lain, di jaman itu Kabupaten Trenggalek juga pernah mengalami perubahan wilayah kerja. Beberapa catatan tentang perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
• Dengan adanya Perjanjian Gianti tahun 1755, Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Wilayah Kabupaten Trenggalek seperti didalam bentuknya yang sekarang ini, kecuali Panggul dan Munjungan, masuk ke dalam wilayah kekuasaan Bupati Ponorogo yang berada di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Sedangkan Panggul dan Munjungan masuk wilayah kekuasaan Bupati Pacitan yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.
• Pada tahun 1812, dengan berkuasanya Inggris di Pulau Jawa (Periode Raffles 1812-1816) Pacitan (termasuk didalamnya Panggul dan Munjungan) berada di bawah kekuasaan Inggris dan pada tahun 1916 dengan berkuasanya lagi Belanda di Pulau Jawa, Pacitan diserahkan oleh Inggris kepada Belanda termasuk juga Panggul dan Munjungan.
• Pada tahun 1830 setelah selesainya perang Diponegoro, wilayah Kabupaten Trenggalek, tidak termasuk Panggul dan Munjungan, yang semula berada dalam wilayah kekuasaan Bupati ponorogo dan Kasunanan Surakarta masuk di bawah kekuasaan Belanda. Dan, pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek termasuk Panggul dan Munjungan memperoleh bentuknya yang nyata sebagai wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten versi Pemerintah Hindia Belanda sampai disaat dihapuskannya pada tahun 1923.
Alasan atau pertimbangan dihapuskannya Kabupaten Trenggalek dari administrasi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu secara pasti tidak dapat diketahui. Namun diperkirakan mungkin secara ekonomi Trenggalek tidak menguntungkan bagi kepentingan pemerintah kolonial Belanda.
Wilayahnya dipecah menjadi dua bagian, yakni wilayah kerja Pembantu Bupati di Panggul masuk Kabupaten Pacitan dan selebihnya wilayah Pembantu Bupati Trenggalek, Karangan dan Kampak masuk wilayah Kabupaten Tulungagung sampai dengan pertengahan tahun 1950.
Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950, Trenggalek menemukan bentuknya kembali sebagai suatu daerah Kabupaten di dalam Tata Administrasi Pemerintah Republik Indonesia.

Saat yang bersejarah itu tepatnya jatuh pada seorang Pimpinan Pemerintahan (acting Bupati) dan seterusnya berlangsung hingga sekarang. Seorang Bupati pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang terkenal sangat berwibawa dan arif bijaksana adalah MANGOEN NEGORO II yang terkenal dengan sebutan KANJENG JIMAT yang makamnya terletak di Desa Ngulankulon Kecamatan Pogalan.

Menurut bukti administrasi yang ada di Bagian Pemerintahan Kabupaten Trenggalek, nama-nama Bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Trenggalek adalah:

• Jaman Trenggalek Awal
1. Sumotruno (menjabat tahun 1793)
2. Djojonagoro (menjabat tahun …)
3. Mangoen Dirono (menjabat tahun …)
4. Mangoen Negoro I (menjabat tahun 1830)
5. Mangoen Negoro II (menjabat tahun … – 1842)
6. Arjokusumo Adinoto (menjabat tahun 1842 – 1843)
7. Puspo Nagoro (menjabat tahun 1843 – 1845)
8. Sumodiningrat (menjabat tahun 1845 – 1850)
9. Mangoen Diredjo (menjabat tahun 1850 – 1894)
10. Widjojo Koesoemo (menjabat tahun 1894 – 1905)
11. Poerba Nagoro (menjabat tahun 1906 – 1932)

• Jaman Trenggalek Manunggal. Dengan manunggalnya kembali wilayah Pembantu Bupati di Panggul dengan wilayah Pembantu Bupati di Trenggalek, Karangan dan Kampak, maka pada jaman itu Trenggalek merupakan daerah Administrasi dalam arti mempunyai wilayah kekuasaan sendiri dan tidak bergabung dengan daerah Kabupaten lainnya. Adapun Bupati yang pernah menjabat pada masa itu hingga sekarang adalah:
1. Noto Soegito (menjabat tahun 1950)
2. R. Latif (menjabat tahun 1950)
3. Muprapto (menjabat tahun 1950 – 1958)
4. Abdul Karim Dipo Sastro (menjabat tahun 1958 – 1960)
5. Soetomo Boedi K. (menjabat tahun 1965)
6. Hardjito (menjabat tahun 1965 – 1967)
7. Muladi (menjabat tahun 1967 – 1968)
8. Soetran (menjabat tahun 1968 – 1974)
9. Much. Poernanto (menjabat tahun 1974 – 1975)
10. Soedarso (menjabat tahun 1975 – 1985)
11. Haroen Al Rasyid (menjabat tahun 1985 – 1990)
12. Drs. H. Slamet (menjabat tahun 1990 – 1995)
13. Drs. H. Ernomo (menjabat tahun 1995 – 2000)
14. Ir. Mulyadi WR (menjabat tahun 2000 – 2005)
15. Soeharto (menjabat tahun 2005 – 2010)
16. Ir. Mulyadi WR (menjabat tahun 2010 – sekarang)



 

Blogger news

Blogroll

About